Cerpen : Apa Kabar Cinta Pertamaku

Mikannews
Gambar Ilustrasi

Dikalaku menginjakan kaki disekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di sekitar Ibu kota Manggarai Timur. Saya merupakan angkatan pertama di sekolah tersebut. Sebagai siswa angkatan pertama di sekolah tersebut tentunya beragam kisah yang dialami.

Berdasarkan apa yang saya alami di sekolah itu bahwa ditahun yang pertama kami terdiri dari 93 siswa/siswi. Dari 93 siswa/siswi tersebut ada salah satu yang membuatku kagum dan tidak bisa berkata apa-apa.

Dia adalah Cutari (nama samaran). Cutari merupakan wanita satu-satunya yang saya suka. Dari penampilannya yang sederhana, bola mata yang bulat serta dengan bodinya yang begitu menarik layaknya seperti yang orang bilang Bodi Gitar Spanyol.

Di sekolah kami berada pada satu kelas, setiap hari di dalam kelas saya selalu menatapnya. Setiap kaliku menatapnya saya selalu merasakan suatu hal yang aneh dalam diriku serta selalu membayangkan bahwa jika dirinya menjadi miliku yakin bahwa hidupku begitu sempurna.

Hah…. hayalanku ane-aneh saja, itulah kata hatiku karena perasaan yang ada belum tersampaikan pada Cutari. Hingga pada akhirnya saya langsung memberanikan untuk menyampaikan rasa itu melalui sahabat dekatku.

Sahabatku dekatku itu namanya Aron
Aron merupakan siswa yang paling bandel dalam kelasku. Sebagai siswa yang bandel tentunya dia selalu memberanikan diri untuk melakukan hal apa saja termasuk untuk menyampaikan rasaku pada Cutari.
Sore itu cuacanya sangat bagus dan kami diintruksikan oleh guru Bahasa Indonesia untuk melakukan studi sore.

Baca Juga   RSUD Manggarai Timur Kekurangan Dokter Spesialis

Sesampai di sekolah aku langsung menemui Aron untuk menanyakan hasil komunikasi tentang rasaku pada Cutari. “Ron.. tanyaku dengan suara bisik..
“Iya.. Bagaimana Teman… Jawab Aron sambil memukul meja yang dia buat sebagai penganti drum…
“Bagaimana hasil komunikasimu dengan Cutari terkait hal yang kita diskusikan kemarin”, tanyaku

“Bro…
Cutari bilang dia terima eeee….
Lalu bagaimana untuk selanjutnya tanyaku lagi …
“Bro.. sampai di asrama kau langsung buat surat untuknya dan sebagai surat pertamamu untuknya kau tuliskan tentang perasaanmu padanya, Hingga sampai saya yang sebagai jembatan menyampaikan rasamu padanya,jawab aron yang seakan sebagai juragan romantika.

Sesampai asrama pun malamnya saya langsung ambilkan lampu pelita untuk memulai menuliskan suratku untuk cutari. Dan jujur saja pada saat itu kami belum merasakan indahnya lampu Philips dan apalagi handphone. Saya pun memulai menuliskan surat itu serta dalam surat itupun begitu banyak kata-kata romantis, dan salah satu yang saya ingat kalimat dalam surat yang pertama itu adalah ” Burung Terbang Karena ada Sayap, Suratku Datang Karena Cinta”.
Keesokan harinya saya langsung menemui Aron yang sebagai penengah atau yang pada saat itu orang bilang sebagai JEMBATAN.

Baca Juga   Kota Kupang Jadi Pilot Project Program Langit Biru Pertamina di NTT

Kami pun memulai memberikan surat pada saat itu hingga pada akhirnya kami jadwalkan bahwa 3 kali dalam seminggu untuk sampaikan tentang perasaan kami lewat surat. Dua tahun saya dan Cutari sampaikan perasaan lewat surat hingga pada akhirnya kami berjanji bahwa satu minggu sebelum ujian Akhir kami harus berbuat perjanjian. Dan tiba saatnya waktu yang kami janjikan. Pada saat itu tepatnya hari sabtu sepulang sekolah kami bertemu di belakang kelas.

Dengan penuh rasa malu karena selama bertahun-tahun kami sampaikan perasaan lewat surat. Namun karena rasa untuk memiliki kamipun berusaha untuk luangkan waktu walau sebentar untuk membuat perjanjian karena sebentar lagi kami harus berpisah.

Pada saat pertemuan itu pun kami membuat sebuah perjanjian yaitu menuliskan sesuatu dalam sebuah kertas dan setelah itu kami kuburkan kertas tulisan yang telah kami buat dengan tidak boleh mengetahui isi tulisan dalam kertas tersebut antara kami berdua. Kamipun berjanji untuk menggali kertas tulisan itu setelah kami menyelesaikan studi kami. Setelah ujian akhir selesai kami melanjutkan studi kami masing-masing. Saya melanjutkan studi di SMAN 2 Borong dan cutari melanjutkan pendidikannya di SMAK Bina Kusuma Ruteng.

Baca Juga   Sosok Deno Kamelus di Mata Sekda Manggarai Timur

Ditahun pertama kami pun masih saling mengirimkan surat yang walau jarak begitu jauh. Namun setelah HandPhone muncul kamipun tidak lagi mengirimkan surat. Dan pada akhirnya mulai hilang kabar dan tak tau hingga saat ini apa isi tulisan dalam kertas yang telah dikuburkan itu.

(Cerpen ini merupakan pengalaman pribadi Penulis)

Penulis : Simplisius Ngaja (Wartawan Mikan-news.com)

 

 

error: PT. Sosoralo Mikan Media