Borong, MN- Kabar meninggalnya Mantan Bupati Manggarai DR. Deno KamelusĀ mengejutkan segenap masyarakat Manggarai Raya. Mantan orang nomor satu di Kabupaten Manggarai itu menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Siloam, Labuan Bajo, Selasa (6/4) sekitar Pukul 22.20 Wita.
Bagi para kolega atau rekan kerjanya,Ā Deno Kamelus dikenal sebagai pemimpin yang arif, bijaksana, tegas namun bersahaja. Kamelus Deno juga dikenal sebagai pemimpin yang berintegritas dan pekerja keras.
“Banyak pelajaran yang didapat selama bersamanya. Pemimpin yang mengajarkan tentang kesungguhan bekerja dan bekerja dengan target yang terukur. Darinya saya belajar tentang Keharusan Menguasai Pekerjaan”, kisah Sekda Manggarai Timur, Boni Hasudungan dalam postingan dilaman Facebook miliknya, Rabu (7/4)
Menurutnya Wakil Bupati Manggarai dua Periode itu adalah sosok pemimpin yang sangat teliti dan detail dalam tugas dan pekerjaan. Karenanya saat menyampaikan hasil perkerjaan atau ingin berkonsultasi, dirinya harus benar benar mempersiapkan diri.
“Dulu setiap saya ingin bertemu menyampaikan hasil pekerjaan atau konsultasi dengannya, saya harus benar benar sudah siap karena biasanya beliau bertanya sangat detail. Saya memilih menunda bertemu daripada bertemu tapi tidak siap”, tambah Boni
Deno Kamelus, kata Boni, adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan setia dalam pekerjaan, selalu memberi apresiasi atas hasil pekerjaan yang baik, menghormati dan menghargai orang lain.
“Beliau juga mengajarkan untuk menghormati dan menghargai orang lain, mengapresiasi setiap pekerjaan yang kita kerjakan dengan baik. Setiap sms atau wa yang saya kirim selalu dibalasnya. WA terakhir yang saya dapat darinya saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Tapi pada perayaan Paskah hari lalu wa yang saya kirim tidak pernah sampai sehingga tidak dibalasnya, mungkin saat itu beliau sedang istirahat karena sakit. Semalam saya dikejutkan dengan berita kepergiannya”, ungkap Boni
“Selamat jalan Bapak Deno Kamelus, terima kasih atas pengabdianmu. Terima kasih atas nilai nilai kebaikan yang pernah engkau tanam pada kami”, tutupnya
(*/tim/mn)



