Linus Lusi Pimpin Pemkot Kupang Kejar Target Penurunan Stunting 2000 Kasus

Mikannews

Kupang, MN – Masalah Stunting di Kota Kupang harus menjadi perhatian serius bersama semua pihak. Pemerintah Kota Kupang dalam kurun waktu 6 bulan kedepan targetkan penurunan angka stunting menjadi 2.000 kasus melalui berbagai program intervensi termasuk edukasi gizi dan program bantuan pangan. Demikian diungkapkan Penjabat Wali Kota Kupang, Linus Lusi dalam kegiatan Gerakan Kemanusiaan Penanganan Stunting, yang digelar secara serentak di 12 puskesmas di Kota Kupang. Rabu (16/10/2024)

 

 

Menurutnya, stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini tercatat di peringkat kedua tertinggi secara nasional. Karena itu pentingnya penguatan upaya pemerintah dalam menangani masalah ini. Stunting tertinggi ada di Kecamatan Maulafa dan Kecamatan Alak. Tercatat ada 4.086 bayi yang mengalami stunting di Kota Kupang.

 

Mantan Kadis Pendidikan Provinsi NTT itu mengatakan, jumlah anak penderita stunting di Kota Kasih, secara khusus di Kelurahan Oesapa mencapai 900 anak.

 

Untuk di wilayah Kota Kupang sendiri, secara umum jumlah anak penderita stunting di tahun 2024 berada pada angka 4.086 anak.

 

Angka ini mengalami penurunan sebesar 18,4 persen dari total kasus yang ditangani sebanyak 4.594 anak.

 

Untuk wilayah Oesapa Kota Kupang perlu melibatkan peran orang tua, khususnya ibu-ibu, dalam mengatasi masalah kesehatan anak karena 900-an anak stunting memerlukan kehadiran Ibu-ibu untuk membawa langsung anak-anaknya mengikuti penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan

Baca Juga   Update Kasus Keracunan Pangan di Matim, 154 Dirawat, 21 Sembuh, 1 orang Meninggal Dunia

 

Sangatlah penting kita memiliki keluarga yang sehat. Untuk itu, jika salah satu keluarga memiliki anak lebih dari dua, keluarga tersebut harus memastikan ada dukungan ekonomi yang memadai, lingkungan yang sehat dan akses air bersih.

 

Sebagai kelapa keluarga, para bapak harus bekerja keras dan bertanggung jawab dalam mendukung keluarga sehingga tidak ada toleransi terhadap stunting di Oesapa dan harus bersama-sama berusaha menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak-anak.

 

Peran Puskesmas sangat penting sebagai pusat edukasi kesehatan. Dimana, sebagai indikatornya, kelurahan yang sehat adalah tidak adanya kasus stunting dan angka kunjungan pasien ke Puskesmas di bawah 50 persen.

 

Sesuai data Survey Kesehatan Indonesia (SKI)  Prevalensi Stunting di Provinsi NTT tahun 2023 sebesar 37,9%, yang tertinggi adalah Kabupaten TTS (50,1%) dan terendah Kabupaten Ngada (21,3%) dan Kota Kupang berapa di urutan ke 5 terendah dengan 29,9% atau lebih tinggi satu angka dari target 28,5% tahun 2024. Sementara, prevalensi Stunting Kota Kupang per Agustus 2024 berdasarkan ePPGBM berada di angka 18,4% dengan jumlah anak stunting sebanyak 4086 atau jauh lebih rendah dari target  28,5% tahun ini.

 

Berikut capaian prevalensi stunting Kota Kupang per Agustus 2024 berdasarkan ePPGBM. Kota Kupang prevalensinya 18,4% atau 4086 anak stunting. Kecamatan Kelapa Lima 24,9% atau 942 anak stunting, Maulafa 19,8% atau 1086 anak stunting, Kota Raja 19,5% atau 381 anak stunting, Oebobo 18,3% atau 773 anak stunting, Alak 14,9% atau 791 anak stunting dan Kota Lama 7,7% atau 113 anak stunting. Sesuai data ePPGBM ini, Prevalensi Stunting di Kota Kupang per Agustus 2024 sebesar 18,4%, yang tertinggi adalah Kecamatan Kelapa Lima dengan 24,9% dan terendah Kecamatan Kota Lama dengan 7,7% atau 113 anak stunting.

Baca Juga   Peringati HANI, Pejabat dan ASN Kota Kupang Tes Urine

 

 

Sementara, tren capaian stunting Kota Kupang menurut ePPGBM tahun 2021 prevalensi stunting Kota Kupang berada di angka 26,1%, tahun 2022  pada 21,5%, tahun 2023 pada 17,2% dan Agustus 2024 pada 18,4% atau satu angka lebih tinggi dari prevalensi tahun 2023 lalu yang hanya 17,2%.

 

 

Program Penanganan Stunting di Kota Kupang Tahun 2023 hingga Agustus 2024 dilakukan melalui dua cara yakni,

Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Sensitif. Intervensi Spesifik (Peran Dinas Kesehatan 30%) di antaranya, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Balita, Bumil dan KEK, pemberian tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri, promosi dan konseling menyusui, promosi dan konseling pemberian makanan tambahan untuk bayi dan anak

 

Intervensi gizi Sensitif (Peran Dinas Kesehatan 70%) di antaranya, program penyehatan lingkungan, sarana air bersih dan PU, akses pelayanan KB (DP2KB) Jaminan kesehatan dan bantuan bagi keluarga miskin (Dinsos/DP3A), konseling perubahan perilaku bagi orang tua dan anak, penyebarluasan informasi melalui berbagai media (Infokom)

Baca Juga   Diduga Keracunan Makanan di Nggalak Leleng, Adrianus Rasi Meninggal Dunia

 

 

Sesuai anggarannya, penanganan Stunting melalui  intervensi spesifik tahun 2024 di antaranya, Pemberian Makanan Tambahan dana DAK 2024 untuk 1220 Balita gizi kurang dan 568 ibu hamil KEK dengan total anggaran sebesar Rp.2,592,720,000, Penyediaan F100 dana DAU 2024 untuk Tatalaksana 350 Balita gizi buruk sebesar Rp.751.920.000, penyediaan nutrisi PDK dana DAU 2024 untuk 2475 anak T (Weight Faltering) sebesar Rp.900,450,000, penyediaan nutrisi PKMK untuk tatalaksana Stunting dana DAU 2023 untuk 3436 anak sebesar Rp.2.446.788.000 dan penyediaan TTD dana DAK 2024 untuk remaja putri dan ibu hamil sebesar Rp.70,000,000. (MN)

error: PT. Sosoralo Mikan Media