Oelamasi, MN – Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani melalui budidaya sejumlah komoditi dan jenis tanaman holtikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Kupang sejak tahun 2017 telah melakukan budidaya bawang merah dengan menggunakan bibit bawang biji dari varietas Lokananta dan Mesarati di puluhan hektar lahan tanam yang tersebar di beberapa kecamatan di antaranya, Kupang Barat, Timur, Amabi Oefeto dan Amarasi.
Upaya budidaya bibit bawang biji ini terbilang cukup berhasil dengan jumlah produksinya capai 15 hingga 25 ton per hektar. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Amin Jauharia kepada media ini di ruang kerjanya di Oelamasi, Selasa (3/10/2023) siang
Hingga bulan Agustus 2023 ini jelas dia, di beberapa lokasi tanam di Kecamatan Kupang Timur, Kupang Barat, Amabi 9efeto dan Amarasi sudah memasuki tahapan panen, tentu tidak seperti biasanya karena budidaya tanam bawang masyarakat petani kita biasanya baru dilaksanakan pada Musim Tanam II (MT II) pada bulan Juli dan Agustus.
*Kalau dulu petani tanam bawang setelah musim panas atau di MT II bulan Juli dan Agustus tapi sekarang bulan Agustus ada yang sudah panen,”ungkapnya.
Yang jelas, antusias masyarakat petani tanam bibit bawang biji mulai tumbuh karena sudah ada beberapa petani yang berhasil budidaya bibit bawang biji dengan penghasilan yang cukup fantastis.
*Hari ini pak Kabid dan teman-teman melaksanakan monitoring di lahan tanam bibit bawang biji di Kecamatan Kupang Timur. Varietas bibit yang ditanam yakni Lokananta dan Mesarati. Produktivitas capai 25 ton per hektar dan rata-rata 1 kilonya hanya 14 – 16 umbi saja, ini cukup besar dan lebih untung karena harga dipasaran berdasarkan berat per kilonya.”bebernya.
Dijelaskan, sekarang, luas lahan tanam bibit bawang biji di Kabupaten capai 65 hektar dan kalau rata-rata menghasilkan 25 ton per hektar maka hasilnya capai miliyaran rupiah setiap musim tanam
Kalau yang di Kecamatan Semau dan Semau Selatan ungkap Amin, masyarakat petani masih menggunakan bibit bawang umbi dengan produktivitasnya hanya mencapai 5 ton per hektar. Tentu, budidaya bibit bawang umbi lebih rugi bila dibandingkan dengan bibit bawang biji karena produksinya rendah sekalipun kelebihannya petani bisa menyiapkan bibitnya sendiri.
Untuk diketahui, bibit bawang biji hanya membutuhkan bibit 3 kilo per 1 hektar lahan tanam dengan harga bibit per kilo sebesar 4,2 juta rupiah sementara kalau menggunakan bibit umbi akan lebih mahal karena bawang bibit umbi per kilo 35 ribu rupiah dan untuk 1 hektar membutuhkan 1 ton bibit umbi, jadi beban biaya untuk bibitnya saja mencapai 35 juta rupiah. Namun segi perlakuan menggunakan bibit bawang umbi akan lebih mudah bila dibandingkan dengan bibit bawang biji. (MN)













