Oelamasi,MN – Dinas Pertanian Kabupaten Kupang melaksanakan kegiatan “Knowledge Sharing Meeting Program READSI” pada Selasa, (6/8/2024), pagi, di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Kupang. Acara ini dihadiri oleh para pendamping READSI dari 20 desa di Kabupaten Kupang.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Amin Juariah melalui Deputi Manajer sekaligus Kabid Ketahanan Pangan, Christophel Pasole, kepada awak media mengungkapkan, kegiatan REDSI ini bertujuan untuk menyampaikan cerita sukses (success story) dari para pendamping READSI dalam bentuk media tertulis maupun audiovisual. “Hari ini kita masih mencoba melihat hasilnya untuk diperbaiki sehingga kita punya media yang lebih baik,” ujar Christophel.
Kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka penutupan program READSI yang telah berlangsung sejak tahun 2019 hingga sekarang. Para pendamping desa diwajibkan untuk membuat cerita sukses selama pendampingan di desa-desa binaan. Program READSI sendiri telah membina sebanyak 140 Kelompok Tani (Poktan) di 20 desa, 10 kecamatan di Kabupaten Kupang.
Dijelaskan, tujuan utama dari program READSI adalah meningkatkan kesejahteraan petani dengan mengubah pola pikir mereka ke arah yang lebih baik dalam hal berusaha dan berkelompok. Program ini juga menekankan pada pendampingan kelembagaan kelompok tani, serta memberikan bantuan seperti benih, pupuk, anakan, mesin pertanian, dan bangunan irigasi. Selain itu, juga dilakukan pelatihan literasi keuangan, food budgeting, serta program sosialisasi gizi bagi anak sekolah dan ibu-ibu penyandang disabilitas pangan.
Sejumlah kendala yang dihadapi pihaknya di lapangan yakni, soal pembiayaan usaha secara kelompok dan kesulitan mengubah pola pikir sebagian petani menjadi masalah utama. “Kami sedang mencari off-taker dan lembaga pembiayaan seperti bank NTT dan koperasi untuk mendukung nilai-nilai usaha petani,” tambahnya. Baru-baru ini, telah ditandatangani MOU antara Bank NTT, koperasi Swastisari, dan off-taker untuk membiayai kegiatan budidaya.
Program READSI juga melibatkan unsur yang berkaitan seperti pemerintah desa, dinas kesehatan, dan unsur terkait lainnya dalam pemberdayaan masyarakat. Komoditas yang diupayakan oleh kelompok tani meliputi pangan, tanaman perkebunan, hortikultura, pekarangan, dan ternak kecil.
Diharapkan, program READSI ini dapat memberikan dampak positif dan menjadi contoh bagi seluruh masyarakat desa dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan pemberdayaan masyarakat.
Terpisah, salah satu Pendamping READSI sekaligus Fasilitator Desa Nunuana, Kecamatan Amfoang Timur, Oby Natbais kepada media ini membenarkan selaku Pendamping READSI dan Fasilitator Desa Nunuana dirinya sudah mengadakan pendampingan dan membina sebanyak 7 Poktan.
Dirinya juga telah mengikuti pembinaan dan pelatihan dari Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian, serta sekolah lapang. Selain itu, Poktan binaannya juga sudah mendapatkan bantuan sumur bor.
“Di desa kami, air sangat terbatas, sehingga bantuan sumur bor dari Kementerian sangat membantu dan mendukung kelompok tani untuk buat kebun-kebun di sekitar sumur bor, kami tanam sayur hasilnya buat kebutuhan dalam rumah juga ada yang dijual ke pasar ” ujarnya
Program READSI juga memberikan dampak positif bagi generasi muda di desa tersebut. “Program ini bertujuan untuk melatih orang muda menjadi petani-petani milenial dan mendorong mereka untuk mengembangkan usaha-usaha dalam bidang pertanian,” jelas Oby.
Dengan adanya program READSI, diharapkan para petani di Desa Nunuana dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dan menjadi contoh bagi masyarakat sekitar.(diksen/MN)













