Jakarta, MN – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia melaksanakan kegiatan peluncuran bersama Computer Security Incident Response Team (CSIRT) sektor pemerintahan dan pembangunan manusia tahap 2, bertempat di Auditorium BSSN-Sawangan, Jakarta. Acara yang digelar pada Rabu, 24 Juli 2024 ini turut dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, serta Kepala BSSN, Hinsa Siburian.
Dalam sambutannya, Kepala BSSN Hinsa Siburian menekankan pentingnya pembentukan CSIRT untuk menghadapi ancaman di ruang siber. “CSIRT atau Tim Tanggap Insiden Siber sangat krusial dalam menghadapi ancaman yang ada di ruang siber,” ujarnya.
Ruang siber ungkap dia, merupakan dunia baru selain darat, laut, dan udara, yang memiliki peluang untuk kesejahteraan manusia, namun juga membawa ancaman dan bahaya.
Konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, termasuk di ruang siber. “Pada saat itu mungkin para pendiri bangsa belum membayangkan adanya ruang siber, tetapi konstitusi kita telah dirancang untuk melindungi bangsa kita dalam segala bentuk ancaman, termasuk di dunia siber,” tambahnya.
Presiden Joko Widodo juga telah menyampaikan perlunya literasi dan kesiapan dalam menghadapi ancaman di ruang siber, terutama terkait dengan data yang menjadi barang sangat berharga dan ancaman perang siber. “Kita harus siap menghadapi perang siber, dan literasi menjadi penting untuk menghadapi dunia baru ini,” ujar Hinsa.
Selain itu dalam penjelasannya, Hinsa juga menguraikan struktur ruang siber yang terdiri dari tiga lapisan: infrastruktur, lapisan logika, dan lapisan sosial. Ancaman di ruang siber tidak hanya bersifat teknis yang menyerang sistem elektronik, tetapi juga menyerang cara berpikir manusia. Oleh karena itu, pentingnya pembentukan CSIRT untuk mengamankan ruang siber nasional sangat ditekankan.
BSSN telah membangun 143 CSIRT hingga saat ini, melebihi target yang direncanakan. CSIRT ini bertugas mengamankan ruang siber di berbagai sektor, termasuk di tingkat kabupaten, kota, dan provinsi. Selain itu, BSSN juga memiliki program pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan terkait ancaman siber.
Peluncuran CSIRT hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi langkah awal untuk terus meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menghadapi ancaman siber. Hinsa menutup sambutannya dengan harapan bahwa semua instansi dan pihak terkait dapat mendukung dan berpartisipasi aktif dalam menjaga ruang siber nasional.
“Terima kasih atas dukungannya. Semoga CSIRT yang dibentuk dapat berjalan sesuai harapan dan menjaga ruang siber nasional kita,” pungkas Hinsa.
Sementara, Menteri Komunikasi dan Informasi, Budi Arie Setiadi, dalam kesempatan tersebut menjelaskan, di tingkat global setidaknya terdapat 2.200 serangan siber per hari sesuai data Astra Security di 2024 dimana serangan tersebut diperkirakan menyebabkan kerugian secara Global sebesar 9,5 triliun US Dollar di tahun 2024 dan akan meningkat menjadi 10,5 triliun US Dollar pada tahun 2025.
Menurut studi Cyber Security Ventures di 2023 per hari berdasarkan perhitungan real time dari Kapersky Indonesia menduduki peringkat ke-10 sebagai target serangan siber secara global. Jadi Indonesia termasuk negara yang ditarget oleh para penyerang atau hacker. Melihat tingginya ancaman serangan siber Implementasi keamanan siber dapat menghadirkan berbagai manfaat antisipatif seperti memberikan perlindungan dari ancaman pencurian dan kebocoran data juga meningkatkan kepercayaan berbagai stakeholder sehingga mampu mendorong investasi serta membantu pengguna menyusun sistem pertahanan siber yang lebih baik dan kuat.
Namun di sisi lain kita dihadapkan dengan tantangan implementasi keamanan siber seperti perkembangan bentuk ancaman keamanan siber seiring kemunculan teknologi baru dimana rendahnya pemahaman pengguna dan terbatasnya talenta keamanan siber Indonesia.
Untuk diketahui, sebanyak 18; organisasi pemerintah daerah jadi target pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber tahun 2024. Satu di antaranya, Pemerintah Kota Kupang. Dengan pembentukan 18 organisasi pemerintah daerah di tahun ini maka sudah sebanyak lebih dari 200 organisasi pemerintah daerah menjadi anggota Tim Tanggap Insiden Siber bersama.yang dibentuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia (diksen/MN)













