Kupang, MN – Puskesmas memiliki satuan penunjang di antaranya adalah Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling, Puskesmas Pembantu yaitu unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil..
Seperti halnya tugas dan fungsi Puskesmas Pembantu (Pustu) Lasiana sebagai pembantu UPTD Puskesmas Oesapa yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.
Sesuai stuktur organisasi Pustu Lasiana tahun 2023, untuk melayani dan menjaga kesehatan masyarakat, Pustu Lasiana memilik 9 orang tenaga medis yang terdiri darii 1 orang dokter utusan UPTD Puskesmas Oesapa, 3 orang perawat, 3 orang bidan, 1 tenaga sukarela dan 1 tenaga magang
Selain pelayanan teknis pengobatan penyakit yang diderita masyarakat yang dilakukan di dalam gedung, Tim medis Pustu Lasiana yang dipimpin Penanggung jawab, Agnes Benga Lasan, ini juga mempunyai pelayanan di luar gedung melalui kegiatan Posyandu Balita dan Posyandu Lansia.
Kegiatan pelayanan kesehatan Tim medis Pustu Lasiana di Posyandu Lansia dilakukan setiap bulan dimana, para lansia nantinya di screaning dan tiap 6 bulan sekali keadaan gula darahnya diperiksa dan dilakukan pengobatan secara khusus bagi pasien lansia penderita Hipertensi dan Diabetes Melitus.
Kegiatan pelayanan kesehatan Tim Medis Pustu Lasiana di Posyandu pada umumnya bersifat pencegahan dimana kegiatan utama di posyandu lansia itu berupa penyuluhan atau promosi kesehatan yang dijadwalkan berlangsung setiap bulan sesuai dengan kalender penyuluhan yang diberikan UPTD Puskesmas Oesapa Sementara, pelayanan kesehatan luar gedung di Posyandu Balita , Tim Medis Pustu Lasiana melakukan upaya pencegahan melalui kegiatan imunisasi baik Imunisasi Dasar maupun Imunisasi Lanjutan.
Selain pelayanan kesehatan di Posyandu Tim Medis Pustu Lasiana juga mengadakan perkunjungan ke rumah pasien gangguan jiwa, penderita Hipertensi dan Diabetes Melitus. Namun diutamakan bagi pasien yang jarang berobat ke Pustu Lasiana.
Pelayanan kesehatan Tim Medis Pustu Lasiana berupa pemeriksaan tekanan darah sambil memotivasi agar pasien mau berobat secara rutin ke Pustu Lasiana karena bagi para penderita Hipertensi dan Diabetes Melitus harus minum obat seumur hidup
Tidak hanya itu, Tim Medis Pustu Lasiana juga mengadakan screening kesehatan untuk anak usia 15 tahun keatas di antaranya meliputi, periksaan tekanan darah, ukur berat dan tinggi badan. Melaksanakan pemeriksaan terhadap Penyakit Tidak Menular (PTM) dimana sesuai jadwalnya dilaksanakan pada bulan Mei 2023 yang baru lalu.
Sesuai data mahasiswa praktek yang dirilis pada Portal Jurnal Malahayati yang ditulis oleh FC Nugroho tahun 2022, jumlah estimasi penderita hipertensi dan diabetes mellitus sangat tinggi. Penderita hipertensi dengan usia lebih dari 15 tahun di Kota Kupang pada tahun 2018 adalah 79.994 orang dengan jumlah terbanyak ada pada Kecamatan Kelapa Lima, yaitu di Puskesmas Oesapa sebanyak 15.512 orang dengan jumlah yang mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas tersebut adalah 1.947 orang. Sedangkan untuk penderita Diabetes Mellitus adalah sebanyak 5.765 orang dan hanya sekitar 398 orang yang mendapat pelayanan kesehatan. Hal ini akan berdampak pada timbulnya berbagai komplikasi baik hipertensi dan diabetes mellitus. Salah satu penyebab komplikasi pada pasien hipertensi dikarenakan beberapa hal di antaranya, rendahnya pengetahuan, rendahnya tindakan pasien hipertensi dalam upaya pencegahan komplikasi, dan rendahnya peran keluarga dalam merawat pasien hipertensi di rumah.
Menghadapi ancaman penyakit musiman yang muncul saat musim hujan yakni demam berdarah. Dimana, kalau muncul kasus Demam Berdarah biasanya Rumah Sakit SK Lerik Kota Kupang telah mengirim datanya ke UPTD Puskesmas Oesapa. Selanjutnya, Tim Medis Pustu Lasiana melakukan perkunjungan ke rumah pasien. “Kalan ada kasus demam berdarah positif pasien langsung diopname di rumah sakit dan Tim Medis Pustu Lasiana segera lakukan pemeriksaan jentik.-jentik nyamuk di rumah-rumah warga.”jelas Penanggung jawab, Pustu Lasiana, Agnes Benga Lasan.
Sesuai data Dinas Kesehatan Kota Kupang, per bulan September tahun 2023 ini, jumlah kasus DBD di Kota Kupang berada pada angka 187. Angka ini jauh lebih rendah dari kasus pada tahun 2022 lalu yang berada pada angka 455 kasus. Tentu hal ini merupakan pencapaian yang signifikan dari berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kesehatan dalam pencegahan DBD, seperti melalui pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M Plus, Menutup Tempat Air, Menguras, Mengubur dan Menabur Abate. Sementara Kasus Malaria dinyatakan sudah bebas dan mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan. RI.
DBD masih menjadi masalah kesehatan yang serius. Semua kabupaten kota di NTT masuk dalam kategori endemic DBD dengan hampir setiap tahunnya terjadi kejadian luar biasa. Tahun 2002- 2022 terdapat 3376 kasus dengan insidens rate 61,8% per 100 ribu penduduk dan 29 kasus kematian dengan case fatality rate 0,9%.
Untuk diketahui, dalam radius 150-200 meter antar rumah yang satu dengan yang lain, kalau ada 10 sampai 15 rumah saja yang bersih maka tidak akan menolong karena nyamuk akan tetap terbang dan berpindah dalam radius 200 metet. Oleh karena itu dalam radius 200 meter masyarakat atau keluarga yang mempunyai rumah di lingkungan itu maka harus menjaga kebersihan lingkungannya, melalui 3 M 1 Plus yakni, menguras dan membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain dan menutup, rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya, mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah dan pemberian obat Abate
Terkait kasus DBD ini, Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan belum lama ini melaunching Implementasi Wolbachia sebagai upaya penanggulangan DBD di Kota Kupang. Kota Kupang menjadi salah satu dari 5 kota yang terpilih sebagai pilot project penanggulangan DBD melalui teknologi Wolbachia. Tentunya, salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat penanganan serius adalah DBD yang merupakan virus yang dibawah oleh nyamuk.
Teknologi Wolbachia ini akan membuat nyamuk tidak akan menularkan dengue. Hasilnya akan dengan jelas teramati pada saat musim hujan. Sebelumnya, teknologi wolbachia telah diuji coba di Yogyakarta dan beberapa kota besar lainnya dengan tingkat efektivitasnya mencapai 70%.
Berdasarkan kebutuhan perminggu,untuk 1 kecamatan di Kota Kupang diperlukan sebanyak 700 ribu telur. Untuk Kota Kupang secara keseluruhan setiap minggunya membutuhkan 2,6 juta telur dengan harapan tingkat keberhasilan mencapai 80%. Tentunya, program ini sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak, karena suksesnya pilot project ini sangat tergantung dari kordinasi dan kerja sama semua pihak termasuk masyarakat. (MN)













