Mata Air, MN – Kunjungan Kerja (Kunker) Kementerian Perikanan dan Kelautan bersama Anggota Komisi IV DPR RI fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) asal NTT, Yohanis Fransiskus Lema (Ansi Lema) melalui program Gemarikan mengajak masyarakat Kabupaten Kupang “Ayo Makan Ikan” untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan otak demi mencegah stunting dan gizi buruk. Kunker dengan mengkampanyekan semangat “Ayo Makan Ikan” ini berlangsung di Aula pantai pariwisata Sulamanda, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang – NTT, Jumat (29/7/2022) pagi
Menurut Ansi Lema, masa depan negara dan bangsa ini tidak terbatas ada di darat saja tetapi juga di Laut. Untuk itu, generasi yang punya masa depan adalah generasi yang rajin mengkonsumsi ikan karena sumber gizi bagi kecerdasan otak juga ada di ikan melalui kandungan Omega-3 yang sangat penting untuk pertumbuhan dan pembentukan otak manusia.
Ia juga menjelaskan, alasan dirinya memilih berada dan bekerja di Komisi IV DPR RI, hal ini tentu karena komisi ini baginya sangat NTT, komisi yang langsung melayani rakyat melalui sektor Pertanian, Peternakan, Perikanan, Perkebunan, Kehutanan dan Lingkungan Hidup.
Sesuai data BPS, jelas Ansi, mayoritas masyarakat di NTT berprofesi sebagai petani dan hidup di desa-desa. Umumnya mereka sebagai petani tradisional dan konvensional dimana selain sebagai petani mereka juga sebagai peternak. Dari sekitar 5 juta penduduk di NTT, 25% berprofesi sebagai petani dan peternak sementara yang hidup di pesisir pantai umumnya mereka berprofesi sebagai nelayan.
“Ketika saya duduk di Komisi IV, teman-teman DPR RI sebut NTT dengan akronim negatif seperti, NTT itu Nasib Tidak Tentu, Nusa Tidak Terurus dan Nanti Tuhan Tolong. Tetapi akronim negatif ini terjadi sebelum saya jadi anggota DPR RI. Semenjak saya duduk di kursi Komisi IV DPR RI akronim negatif ini sudah berganti positif, Visioner dan konstruktif yang menjanjikan bagi masa depan NTT karena NTT itu adalah Nelayan Tani dan Ternak. Inilah sektor andalan dan unggulan sekaligus menjadi masa depannya NTT.”ungkapnya.
Tidak hanya itu, menurutnya, ada lagi yang bilang di NTT banyak lahan tidur dan tidak terurus karena manusianya pemalas, ini tidak benar, karena yang sebenarnya terjadi justru yang duluan tidur adalah Pemerintah.
“kalau negara kasih eksavator dan traktor maka dalam hitungan menit sudah ada lahan tanam puluhan hektar. Kalau negara berikan rakyat pupuk, benih dan air apakah rakyat NTT malas?, kalau pemerintah kasih kapal ketinting dan sampan apakah rakyat NTT tidak melaut dan cari ikan? Jadi kalau ada kasus gizi buruk dan stunting karena negara yang “Namkak” (Tenganga) bukan rakyat. Rakyat tidak bisa disalahkan karena rakyat tidak punya apa-apa dan negara yang punya maka harus bekerja menyediakan sarana prasana serta fasilitas yang dibutuhkannya rakyat.”tegasnya.
Sementara, Pemerintah Kabupaten Kupang melalui, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kupang, Jack Baok dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasih atas semua bantuan baik yang diterima tahun lalu dan yang sementara masih dalam proses di tahun ini.
“saya sudah tanda tangan rekomendasi untuk beberapa bantuan dan mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa terealisasi. Nelayan kita nelayan kecil dan tidak punya fasilitas, mereka bituh ketinting dan sampan bukan kapal 5GT karena mereka belum terbiasa menggunakan kapal tangkap sebesar itu.”ungkapnya.
Bagi masyarakat yang tinggal di pegunungan jelas Jack, miliki banyak ternak,, tentu sumber penghasil daging banyak tetapi mereka lebih memilih untuk jual dan dapat uang ketimbamg memakan dagingnya
“Orang Amarasi terkenal dengan sapi paron, orang Amfoang dan Fatuleu juga banyak sapi tetapi untuk makan daging tunggu kalau ada pesta., Inilah persoalan mendasar dan perlu diperbaiki. Karena masyarakat kita lebih banyak tinggal di pegunungan jadi budi daya Ikan air tawar jadi solusi dan harus lebih banyak digalakan.”jelasnya. (MN)
