
Borong, MN – Pekerjaan proyek pelebaran badan jalan Mano-Wae Wake segmen Mano-Bajar di kecamatan Lamba Leda Selatan Kabupaten Manggarai Timur (Matim) masih berjalan
Pantauan media ini Minggu (20/6) sore material tanah hasil pelebaran di ruas jalan tersebut masih ditumpukan dan dihamparkan di sisi badan jalan sepanjang titik penggalian.
Akibatnya saat hujan gundukan material tanah tersebut terbawah arus air hujan ke badan jalan hingga menyebabkan jalan licin, berlumpur. Hal ini cukup membahayakan keselamatan pengguna jalan
Sejumlah pengendara sepeda motor asal Bajar, desa Bangka Kuleng dan wilayah sekitarnya pun mempertanyakan alasan penumpukan material tanah di sisi jalan tersebut
Menurut mereka jika material tersebut tidak diangkut ke tempat lain maka kondisi ruas jalan tersebut bisa membahayakan warga pelintas saat hujan.
Mereka mempertanyakan apakah proyek tersebut tidak menganggarkan biaya angkut material hasil penggalian sehingga Kontraktor pelaksana menumpukan material tersebut disisi badan jalan
“Biasanya kalau proyek pelebaran seperti ini ada biaya angkut material, mungkin saja ini sudah sesuai RAP yaitu menumpukan material di sisi jalan, sehingga menghemat biaya “, ujar seorang Pesepeda Motor kepada Media ini, sembari meminta namanya tidak dimediakan, Minggu Sore
Ia mengatakan akibat penghamparan material tanah di sisi jalan pelebaran tersebut membuat titik di sepanjang pekerjaan itu menjadi berlumpur dan licin saat hujan turun,
Kondisi itu kata dia, sangat membahayakan keselamatan warga pelintas yang menggunakan sepeda motor, kendaraan roda empat maupun pejalan kaki
“Kondisi seperti ini sangat membahayakan para penggunaan kendaraan sepeda Motor dan Roda Empat, maupun pejalan kaki, kalau tidak hati hati pasti mengalami kecelakaan”, ucapnya
Sebelumnya, Wakil Ketua II DPRD Manggarai Timur, Damian Damu telah mengingatkan Dinas teknis dan Kontraktor pelaksana terkait material tanah yang dihamparkan di sisi jalan disepanjang titik pelebaran di ruas jalan Mano-Bajar
Ia mengingatkan dinas teknis dan kontraktor pelaksana saat melakukan kunjungan kerja dalam rangka monitoring pekerjaan pelebaran jalan Mano-Bajar, Jumat (18/6)
Menurutnya material hasil galian yang terhampar untuk pembentukan badan jalan akan sangat rawan pada musim penghujan, tentu jalan akan menjadi licin dan itu sangat berbahaya.
“Saya berharap pihak dinas teknis untuk memperhatikan hal ini. Apakah setelah penggalian pelebaran ini langsung diikuti agregat atau tidak. Kalau iya berarti ruas jalan ini akan tetap bermanfaat sebelum dilakukan pengaspalan. Namun apabila tidak, maka jalur ini menjadi jalur berbahaya untuk dilewati kendaraan pada saat musim hujan”, ujarnya
Ia juga berharap agar jalur tersebut harus dilengkapi dengan drainase meskipun baru sebatas sarulan tanah sebelum dibangun saluran permanen.
Terpantau juga material tanah hasil pelebaran di titik Kali Wae Mboang dibuang begitu saja hingga menimbun saluran air di kali tersebut. Hal ini menyebabkan saluran aliran air di kali tersebut menyempit.
Warga berharap agar material tanah dan batu yang dibuang saluran kali tersebut diangkut dan dipindahkan ketempat lain sehingga saluran air kembali normal
“Seharusnya material penggalian ini tidak dibuang ke saluran kali, sehingga tidak terjadi penyempitan, saya harap material tanah dan bebatuan ini segera diangkut sehingga saluran air kembali normal”, ujar seorang warga Mano yang enggan namanya dimediakan.
Seperti diketahui proyek pelebaran jalan Mano-Wae Wake segmen Mano-Bajar dengan pagu anggaran 300 juta rupiah bersumber dari DAU, sistem pengerjaan swakelola
(*/nn1/mn)