Sastra  

Frater, Salahkah Aku Mencintaimu?

Mikannews
Ilustrasi

 

“Aku harus pergi agar dirinya tabah saat mengetahui jika masih ada hal yang aku perjuangkan. Sebab, dunia percintaan tidak memiliki bentuk dan selalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang datang. Bertahan adalah cara yang menyakitkan kalau saja kehidupan imajinatif hanya sekadar percakapan belaka.”

Tatapannya sangat menyejukkan. Selain tampang dan gestur tubuhnya yang elastis juga kegantengnya yang sangat aduhai. Aku sebagai bidan desa dan beberapa teman perempuan yang lain di desa kami ingin memiliki pria ini. Dia adalah pria yang maco yang aku kenal.

Aku biasa memanggilnya Mas Joni. Sudah satu minggu mas Joni hidup bersama kami di desa terpencil ini. Tetapi kami belum mengetahui motif apa hingga mas Joni tiba-tiba hadir di tengah kami. Kemarin saya sempat tanya pada ketua stasi yang tidak lain ayah kandungku. Tetapi beliau dengan senyum menjawab pertanyaanku bahwa mas Joni adalah mahasiswa ppl yang kebetulan tempat praktiknya di kampung kami.

Baca Juga   Puisi : Wakil Kami (Ejhy Serlenso)

Jika memang demikian, maka aku harus memanggilnya adik. Sebab dua tahun lalu, aku menyelesaikan pendidikan kebidanan. Oleh sebab itu, peluang untuk memilikinya sangat tidak mungkin menjadi kekasih. Tapi itu bukan mustahil kalau Tuhan meridohi hubungan kami.

Ahhh.. khayalanku semakin menjadi-jadi. Aku merasa hari-hariku bersama mas Joni entah di ruang makan, berpapasan di dapur atau saat pergi gereja berdua, tidak punya semangat yang lebih seperti sebelum aku mengetahui identitasnya.

Namun lebih dari itu, aku harus rela melihat teman-teman bidan desa yang lain merasa gembira ketika bercengkerama ria di rumah bersama mas Joni. Senyumannya bukanlah hal yang istimewa buat aku. Setiap hari aku melihat itu tersembul dari bibir munggil yang selalu menghipnotis separuh masa depanku.

Baca Juga   Puisi : Putri Peri (Ejhy Serlenso)

Aku memang mencintainya. Tapi aku tidak mungkin memilikinya. Ini memang rasa yang sangat sulit untuk ditepis. Kebersamaan yang kami lewati dalam kurun waktu enam bulan lebih seolah-olah penyiksaan bagiku.
*****
Tibalah saat yang menegangkan itu, saat laki-laki yang sudah aku kubur perasaan dengannya tampil di depan altar gereja mendamping pastor paroki dengan mengenakan jubah putih.

Satu gereja hening. Seolah-olah kami semua tidak percaya dengan apa yang terjadi hari itu. Beberapa teman bidan desa yang sebangku dengan aku tertunduk lesu sambil berurai air mata.

Dia berdiri dengan tenang. Tatapannya fokus pada altar. Mungkin baginya ini kejutan untuk kami. Hendaknya aku berteriak. Hatiku memberontak mengapa ayah membohongiku.

Baca Juga   Puisi : Putri Peri (Ejhy Serlenso)

Satu minggu setelah perpisahan itu, aku lebih suka menyendiri di dalam kamar.

Nafsu makan pun berkurang. Ayah dan ibu mulai cemas dengan keadaanku saat itu.

Tapi apalah daya, ternyata orang yang hidup di tengah kami selama kurang lebih enam bulan adalah seorang frater. Dan mengapa ayah membohongiku. Ataukah ayah tau jika aku menyukai dan memiliki perasaan dengan mas Joni.

Bukankah Frater juga manusia? Dan dia normal seperti laki-laki lainnya. Menyukai dan disukai bukankah yang wajar?. Aku mencintaimu Frater.

Oleh: Waldus Budiman,
Penulis: Penyuka Kopi Pahit, suka menyendiri dan mencintai mantan orang lain).

 

error: PT. Sosoralo Mikan Media