Kupang, MN – Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang diharapkan menyajikan data penurunan stunting yang akurat. Tidak hanya diatas kertas tetapi harus sesuai fakta di lapangan. Demikian hal ini diungkapkan, Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe, saat membuka kegiatan Analisis Situasi Aksi Konvergensi Stunting Tingkat Kabupaten Kupang di Auditorium Hotel Neo Aston Kupang. Senin, (28/3).
Menurut dia, tujuan kegiatan Analisis Situasi Aksi Konvergensi Stunting ini untuk memastikan pencegahan stunting menjadi prioritas pemerintah serta mengidentifikasi sumber pembiayaan bagi penyelenggaraan aksi integrasi dan penyusunan rencana pembangunan dan anggaran daerah untuk penurunan stunting.
Kegiatan ini juga merupakan sebuah media inklusif untuk memetakan peran dan target kerja yang berkaitan dengan penurunan stunting tahun 2023 mendatang
Kasus stunting ini juga telah menjadi fokus perhatian Presiden dan Gubernur NTT. Dengan demikian, masalah stunting harus menjadi prioritas penanganan di Kabupaten Kupang.
.
“para narasumber yang berdialog bukan hanya berbicara dan selesai disini tanpa hasil tetapi harus menyelesaikan masalah secara tuntas sesuai fakta kejadian di lapangan. Terima kasih buat para Camat dan Kades yang sudah hadir sebagai Ketua Pelaksana Stunting Kab. Kupang saya mengajak semua yang hadir untuk bekerja keras demi menurunkan stunting.. Saya yakin para Camat dan Kades akan bekerja dengan baik di lapangan sementara Bapedda, DP2KBP3A dan Dinkes hanya sebagai penghubung saja.”ungkapnya.
Dalam tataran global jelas dia, stunting diinternalisasi dalam target tujuan kedua dalam tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu menghapuskan semua bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030 atau dengan kata lain angka stunting pada tahun 2030 harus berada pada tingkat 0%. Dalam skala nasional, berbagai kebijakan telah diambil seperti strategi nasional percepatan pencegahan stunting 2018-2024 dan berbagai regulasi penurunan stunting secara berjenjang dibuat dan diimplementasikan sampai tingkat daerah. Target penurunan stunting sesuai RPJMN di tahun 2022 yaitu 24,5% dan di tahun 2024 diharapkan angka stunting nasional menurun hingga 14%. Sedangkan untuk target RPJMD kab. Kupang, tahun 2022 angka stunting menurun menjadi 17,3% dan terus menurun hingga tahun 2023 dikisaran 13%.
Pengurus Posyandu, Pustu dan Puskesmas jelas dia, harus memiliki data yang kuat dalam penanganan stunting di kab. Kupang. Tidak hanya soal penanganan stunting, disisi lain, Dinkes dan OPD terkait harus memperhatikan gaji para Kader Posyandu yang belum terbayarkan. Hal ini menjadi kelemahan dari para Kapus.
“Jika data sesuai dengan keadaan dilapangan maka keberhasilan akan nampak disitu. Ini menjadi perhatian para Camat untuk kerja ekstra dalam pendataan penanganan stunting. Untuk mencapai target penurunan stunting, kita semua berkumpul ditempat ini untuk mengembangkan program kita bersama yaitu Tikar Biru. Mari satukan semua daya upaya mengaktualisasi 4 kegiatan utama yaitu aksi bergizi, catin sehat, skrining mandiri dan on top service sebagai bentuk akselerasi menurunkan angka prevalensi stunting di kab. Kupang”, jelasnya.
Ia berharap, melalui 4 aksi penting ini, para peserta tidak hanya mengikuti acara pembuka saja tetapi harus mengikuti dengan saksama penyampaian materi.
Selain itu, harus ada keterbukaan soal anggaran dan tepat sasaran peruntukannya. Banyak OPD terkait masih berperilaku acuh tak acuh dalam masalah stunting. Semua pihak terkait dalam aksi konvergensi penurunan stunting silahkan bekerja sesuai tugas dan fungsinya masing- masing. Perbaiki kembali sistem koordinasi yang selama ini dijalankan. Review kembali target yang ada dalam rencana kerjanya agar lebih realistis dan progresif. Perluas lagi tindakan promotif agar masyarakat lebih mengenal stunting.
Orang nomor dua di Kabupaten Kupang ini juga mengucapkan terima kasih atas kerja keras tim stunting dari Desa, Kelurahan, para TPG dan KPM, serta seluruh mitra yang ada telah bekerja keras menurunkan angka stunting di kab. Kupang secara signifikan yaitu dari 41,40% di tahun 2018 menjadi 22,3% ditahun 2021. Keberhasilan penurunan prevalensi angka stunting lebih dari setengah ini merupakan suatu prestasi dan bukti kolaborasi konkret dari kita semua. Namun, jangan terlena dan berpuas hati dengan hasil yang dicapai karena dari total 6.674 balita status pendek dan sangat pendek ditahun 2021 meningkat menjadi 7.202 anak ditahun 2022 dari 29.914 balita atau 24,14%. Artinya satu dari setiap empat anak di kab. Kupang menderita stunting.
Ada 5 Kecamatan yang memiliki balita dengan angka stunting 35-44 %, yaitu kecamatan Amfoang Barat Laut, Amarasi Timur, Amarasi Barat, Amfoang Barat Daya dan Fatuleu Tengah. Untuk itu, para Camat diminta untuk lebih bekerja keras mendampingi kapus untuk menurunkan angka stunting.
Kepada semua pihak, Wabup Kupang meminta agar terus mendukung dan mengawal pelaksanaan percepatan penurunan stunting. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah harus bekerja sama dengan para OPD terkait dan kecamatan sampai ke desa.
Ingatlah bahwa generasi unggul masa depan ditentukan oleh aksi dan langkah kolaboratif yang dilakukan hari ini.
Sebelum menutup sambutannya, Manafe mengharapkan agar dinas-dinas terkait melakukan evaluasi setiap 2 bukan sekali, khususnya melakukan evaluasi di kecamatan dan desa yang angka stuntingnya masih tinggi. Semoga ditahun 2023 angka penurunan stunting bisa mencapai 14%.
Turut mendampingi, para pimpinan OPD terkait salah satunya Kadis DP2KBP3A Yesay Lanus, para Camat se-kab. Kupang, perwakilan Pokja Stunting Propinsi NTT, para Kades, Kapus dan Tenaga Gizi, LSM/NGO, para narasumber dari Bapelitbangda Prop NTT, Dinkes Propinsi NTT, dan Dispendukcapil Kab. Kupang serta para peserta. (MN)
