Fatukanutu, MN – Bangunan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perbibitan Babi di Dusun 6, Desa Fatukanutu, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, yang selesai dikerjakan pada tahun 2022 – 2023, belum dimanfaatkan dan sudah mulai rusak akibat dugaan rendah kualitas bangunan ternyata proyek pengerjaannya menelan anggaran dari sumber APBD Dinas Peternakan Kabupaten Kupang tahun 2022 sebesar Rp. 684. 970. 000, masing-masing untuk Pembangunan Fisik Ged sebesar Rp. 640.300.000, Perencanaan Rp. 26.802.000 dan Pengawasan sebesar Rp. 17.868.000. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kupang, Oktaviana Manulangga menjawab pertanyaan Mikannews.com melalui pesan WhatsApp (WA), Kamis (24/9/2026) pagi.
Sebelumnya, berdasarkan pantauan Mikannews.com di lokasi, Dusun 6, Desa Fatukanutu, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Rabu (23/9/2026) siang, sejumlah bagian lantai kandang terlihat terkelupas. Pada beberapa titik, lantai berbahan semen itu juga tampak berlubang akibat dibor “Undur-undur” (red_serangga tanah)
Kerusakan juga terlihat pada bagian dinding. Beberapa bagian tembok tampak mengalami kerenggangan dengan celah sekitar 1–3 sentimeter. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan adanya persoalan pada kualitas pengerjaan atau material bangunan. Namun, penyebab pastinya masih memerlukan pemeriksaan teknis.
Selain itu, ketebalan dinding pada sejumlah bagian terlihat tidak seragam. Permukaannya tampak bergelombang dan tidak simetris sehingga secara visual memberikan kesan pengerjaan yang kurang rapi.
Sejumlah pintu kandang berbahan besi juga terlihat mengalami kerusakan. Kondisi ini menjadi sorotan karena bangunan tersebut relatif masih baru dan hingga kini belum dimanfaatkan.
Sesuai rencana bangunan UPT Perbibitan Babi itu dibuat sebagai kandang pusat penyediaan bibit babi bagi masyarakat Kabupaten Kupang.
Fasilitas tersebut terdiri atas gedung perkantoran dan satu los kandang yang diperuntukkan bagi indukan, pejantan, kandang melahirkan hingga penggemukan.
UPT tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 20 ekor indukan dan dua ekor pejantan. Namun, hingga kini fasilitas yang dibangun dengan tujuan mendukung penyediaan bibit babi bagi masyarakat tersebut belum memberikan manfaat. (sam/MN)
